iklan

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Fondasi Data Belum Siap, Sektor Manufaktur Indonesia Dinilai Terlalu Buru-Buru Adopsi AI

Avatar photo
Reporter : Dedy Editor: Redaksi
8995-7564d67ad921_img1
  • Bagikan

JAKARTA — Tren implementasi Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi kini tengah melanda berbagai industri global. Namun, langkah transformasi digital manufaktur Indonesia dinilai masih menghadapi kerikil tajam. Banyak perusahaan dinilai terlalu fokus pada teknologi canggih seperti AI, namun melupakan integrasi sistem operasional dasar yang krusial.

Vice President Asia Epicor, Vincent Tang, mengungkapkan bahwa banyak pelaku industri manufaktur di tanah air sudah mulai gencar membahas predictive analytics dan AI. Sayangnya, antusiasme ini tidak dibarengi dengan kesiapan fondasi operasional yang memadai.

Scroll kebawah untuk lihat konten
iklan
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!
Baca Juga:
Nostalgia Dimulai! Friendster Resmi Hadir di App Store: Ini Cara Download dan Fitur Uniknya

“Saat ini banyak perusahaan langsung berbicara mengenai AI dan otomatisasi, padahal fondasi dasarnya belum tentu siap. Yang sering terlupakan adalah bagaimana perusahaan memastikan data, proses bisnis, dan operasional mereka sudah terhubung dengan baik,” ujar Vincent.

Masalah Klasik: Data Operasional yang Masih “Terisolasi”

Menurut Vincent, salah satu tantangan terbesar dalam transformasi digital manufaktur Indonesia adalah penggunaan sistem operasional yang terpisah-pisah (siloed).

Hingga kini, masih banyak perusahaan yang menjalankan fungsi bisnisnya secara parsial. Akibatnya, data penting tersebar dan terisolasi di masing-masing divisi, mulai dari:

  • Divisi Produksi
  • Manajemen Inventori (Supply Chain)
  • Divisi Pembelian (Procuring)
  • Pencatatan Keuangan

Kondisi data yang terfragmentasi ini membuat manajemen kesulitan mendapatkan visibilitas operasional secara menyeluruh dan real-time. Padahal di tengah ketatnya persaingan industri dan perubahan rantai pasok global, kecepatan dalam mengambil keputusan berbasis data (data-driven decision) adalah kunci utama untuk bertahan.

ERP Modern dan Cloud Sebagai Jembatan Integrasi

Untuk mengatasi kendala tersebut, Vincent menegaskan bahwa sistem Enterprise Resource Planning (ERP) modern kini bukan lagi sekadar alat administrasi atau pencatatan keuangan biasa. ERP telah bertransformasi menjadi pusat integrasi seluruh operasional perusahaan.

Melalui platform ERP yang modern, perusahaan manufaktur dapat menyatukan berbagai lini kerja—mulai dari penjualan, produksi, hingga distribusi—ke dalam satu ekosistem tunggal.

Selain ERP, adopsi teknologi cloud juga memegang peranan penting. Sistem berbasis cloud memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk mengakses data dari berbagai lokasi secara real-time. Sistem ini juga mempermudah integrasi teknologi masa depan lainnya, seperti Internet of Things (IoT) pada mesin produksi dan otomatisasi tingkat lanjut.

Peluang Besar Indonesia di Pasar Asia Tenggara

Kebutuhan akan modernisasi sistem ini kian mendesak seiring dengan dinamika geopolitik global. Saat ini, banyak basis produksi global mulai bergeser dari China menuju kawasan Asia Tenggara, seperti Vietnam, Thailand, dan Indonesia.

Baca Juga:
Kenaikan Biaya & Desain Jenuh, Masa Depan Samsung Galaxy Z Flip Diujung Tanduk?

Sebagai salah satu kekuatan ekonomi dan basis manufaktur terbesar di regional, Indonesia memiliki peluang emas untuk menarik investasi tersebut. Namun, kesiapan infrastruktur digital industri lokal akan menjadi penentu utama.

Kendati demikian, Vincent mengingatkan bahwa transformasi digital manufaktur Indonesia tidak bisa dilakukan secara instan dalam semalam. Proses modernisasi harus dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan tingkat kesiapan operasional serta kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki perusahaan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID

+ Gabung

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *