Penghematan dilakukan melalui sejumlah langkah, termasuk pengendalian belanja operasional seperti perjalanan dinas serta keputusan untuk tidak melakukan pengadaan kendaraan dinas baru.
“Hasil penghematan anggaran ini kami kumpulkan dan dialokasikan kembali untuk membantu pembangunan rumah-rumah ibadah di Kota Kupang,” ujar Christian.
Menurutnya, efisiensi anggaran tidak boleh dimaknai sekadar sebagai upaya mengurangi pengeluaran pemerintah.
Lebih dari itu, setiap rupiah anggaran yang berhasil dihemat harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Efisiensi bukan hanya soal mengurangi belanja. Yang lebih penting adalah bagaimana hasil penghematan itu kembali menjadi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Rumah Ibadah jadi Bagian dari Pembangunan Manusia
Christian menegaskan, pembangunan Kota Kupang tidak hanya berbicara mengenai pembangunan jalan, gedung maupun infrastruktur fisik lainnya.
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab membangun manusia yang memiliki iman, karakter, kepedulian terhadap sesama serta mampu hidup dalam keberagaman.
Dalam konteks tersebut, rumah ibadah dinilai memiliki posisi penting dalam pembangunan masyarakat.
Gereja, masjid, pura, vihara dan rumah ibadah lainnya tidak hanya menjadi tempat menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kasih, persaudaraan, kepedulian dan toleransi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
