Ia menilai perpaduan teknologi modern dan budaya lokal dapat melahirkan karya besar yang mampu bersaing di tingkat global.
“Ketika teknologi dipadukan dengan budaya, maka akan lahir karya-karya besar yang mampu bersaing secara global,” katanya.
Serena juga mengajak mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton dalam arus perubahan zaman, tetapi tampil sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Jadilah pencipta perubahan, bukan sekadar penumpang perubahan. Kota Kupang dan NTT membutuhkan anak-anak muda yang kreatif, inovatif, serta mampu menghadirkan solusi, bukan hanya mengkritik keadaan,” tegasnya.
Ia turut mengapresiasi berbagai kompetisi yang digelar dalam PISMA X, mulai dari debat ilmiah, inovasi digital, business plan, hingga lomba seni dan budaya.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan intelektual sekaligus kreativitas.
Sementara itu, Rektor UNWIRA Kupang, Pater Dr. Stefanus Lio, mengatakan bahwa PISMA bukan sekadar agenda tahunan kampus, tetapi ruang strategis untuk membangun karakter generasi muda yang tangguh.
“Kegiatan ini menghadirkan dua kekuatan besar manusia, yakni ilmu pengetahuan dan seni. Ilmu membentuk pola pikir yang kritis dan rasional, sementara seni membentuk kepekaan rasa dan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkapnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










