Pengalaman tersebut semakin dibuat unik dengan adanya kemungkinan 0,2 persen merpati virtual tersesat. Jika hal itu terjadi, pesan yang dikirim bisa hilang dan tidak pernah sampai kepada penerima.
Konsep yang terdengar tidak praktis tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna muda.
Dibuat Hanya dalam Tiga Minggu
Aplikasi Carrier Pidge dikembangkan oleh Noah Iarrobino dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar tiga minggu.
Menariknya, sang pengembang justru tidak mencoba menyembunyikan sisi tidak praktis dari aplikasi tersebut. Dalam deskripsi di toko aplikasi, Carrier Pidge bahkan digambarkan sebagai aplikasi yang “tidak berguna” dan “benar-benar tidak praktis”.
Namun, ketidakpraktisan itulah yang menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan.
Pengguna tidak lagi sekadar menekan tombol kirim lalu menunggu tanda pesan terbaca. Mereka diajak menikmati proses perjalanan pesan hingga akhirnya tiba di tujuan.
Menunggu Pesan Justru Menjadi Pengalaman
Setelah mengirim pesan, pengguna dapat melihat peta interaktif yang memperlihatkan perjalanan merpati virtual menuju penerima.
Konsep tersebut menciptakan rasa penasaran yang sulit ditemukan dalam aplikasi pesan instan konvensional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










