Pada WhatsApp, Telegram, maupun layanan serupa, pesan biasanya langsung terkirim dan dapat segera dibaca. Kecepatan menjadi standar utama komunikasi.
Sebaliknya, aplikasi berbasis merpati digital menjadikan proses menunggu sebagai bagian dari komunikasi.
Pengguna seolah diajak kembali ke masa ketika sebuah pesan memiliki nilai lebih karena kedatangannya tidak bisa dipastikan secara instan.
Roost Diklaim Sudah Punya 300.000 Pengguna
Fenomena ini juga tidak berhenti pada satu aplikasi. Platform serupa bernama Roost dilaporkan berhasil mengumpulkan sekitar 300.000 pengguna hanya dalam hitungan minggu setelah diluncurkan.
Angka tersebut menunjukkan adanya ketertarikan terhadap model komunikasi digital yang lebih lambat.
Tren ini sekaligus menjadi sinyal bahwa sebagian pengguna mulai mempertanyakan budaya komunikasi yang selalu menuntut kecepatan.
Selama bertahun-tahun, komunikasi digital berkembang dengan satu prinsip utama: semakin cepat pesan terkirim dan dibalas, semakin baik.
Namun, kemudahan tersebut juga memiliki konsekuensi. Notifikasi yang datang tanpa henti dapat membuat seseorang merasa harus selalu siap merespons. Kebiasaan membalas secara cepat juga dapat membuat komunikasi berlangsung secara spontan tanpa banyak pertimbangan.
Gen Z Mencari Jeda dari Komunikasi Serba Cepat
Kemunculan aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost dapat dilihat sebagai bentuk pencarian jeda di tengah kehidupan digital yang semakin padat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










