Data menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup Sehat (HALE) masyarakat Indonesia rupanya hanya berada di kisaran 61,5 tahun.
“Artinya, ada selisih sekitar 11 tahun di mana lansia kita menghabiskan sisa hidupnya dalam kondisi tidak sehat,” tutur Imran.
Kondisi fisik yang didera penyakit kronis ini pada akhirnya mempercepat penurunan fungsi kognitif, yang tidak hanya menurunkan kualitas hidup lansia tetapi juga memicu pembengkakan biaya perawatan.
Biaya Perawatan Membengkak Hingga 5 Kali Lipat akibat Komorbid
Pada program skrining massal yang diinisiasi Kemenkes sepanjang tahun 2025, petugas berhasil memeriksa sekitar 7 juta lansia dari total 34 juta populasi. Hasilnya, 30 persen di antaranya terindikasi mengalami gangguan kognitif.
Imran menekankan, situasi ini bisa menjadi bom waktu bagi perekonomian keluarga maupun negara jika sang pasien memiliki penyakit penyerta (komorbid) seperti diabetes atau hipertensi.
“Begitu lansia ini ada komorbid misalnya diabetes, lalu ketambahan demensia, biaya perawatannya langsung meningkat 4 sampai 5 kali lipat untuk mengurus kasus ini,” terangnya.
Strategi Baru: Dorong Layanan Home Care dan Teknologi Digital
Melihat tingginya beban fasilitas kesehatan, Kemenkes menilai arah pelayanan medis bagi lansia di Indonesia harus mulai beradaptasi. Mengikuti tren global, fokus perawatan jangka panjang (long-term care) bagi penderita demensia kini mulai digeser dari rumah sakit atau panti jompo ke arah perawatan berbasis rumah (home care).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
