GMKI Kupang Soroti Kelangkaan BBM dan Harga LPG Melonjak di NTT, Desak Pertamina Bertindak

demo pertamina
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kupang bersama sejumlah Organisasi Kepemudaan (OKP) mendatangi kantor PT Pertamina Patra Niaga pada 22 Mei 2026. (Foto: Ist)
  • Bagikan

Oebobo, KupangTimes.ID – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kupang bersama sejumlah Organisasi Kepemudaan (OKP) mendatangi kantor PT Pertamina Patra Niaga pada 22 Mei 2026.

Dalam aksi dan audiensi tersebut, mereka membawa berbagai persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dari kelangkaan BBM hingga melonjaknya harga LPG 12 kilogram di Kota Kupang.

Baca Juga:
Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.394,20 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Membayangi

Aksi itu dipicu keluhan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan BBM di sejumlah wilayah kepulauan seperti Waingapu, Rote Ndao, Sabu Raijua, hingga kawasan Amfoang. Selain itu, GMKI juga menyoroti harga LPG yang terus meningkat dan dinilai semakin membebani masyarakat kecil.

GMKI Soroti Harga LPG yang Melambung

Dalam dialog bersama pihak Pertamina, Kabid Aksi dan Pelayanan GMKI Kupang, Putra Umbu Toku Ngundang, menegaskan bahwa kenaikan harga LPG sangat berdampak bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM makanan dan kuliner.

Baca Juga:
Sosok New Nissan Livina Terungkap, Apa Kata NMI?

“Harga LPG 12 kilogram di lapangan sangat variatif. Kami menemukan harga berkisar antara Rp380 ribu hingga Rp460 ribu per tabung. Ini jelas sangat memberatkan masyarakat,” tegas Putra.

Menurutnya, lonjakan harga tersebut membuat banyak pelaku usaha kecil harus mengeluarkan biaya tambahan besar hanya untuk mempertahankan aktivitas usaha mereka.

“UMKM makanan dan kuliner kecil menjadi kelompok yang paling terpukul. Pengeluaran mereka membengkak hanya untuk membeli gas. Bahkan rumah tangga kelas menengah ke bawah juga ikut terdampak,” ujarnya.

Ia menyebut banyak keluarga akhirnya terpaksa mengurangi kebutuhan hidup lainnya demi memastikan kebutuhan dapur tetap terpenuhi.

Pertamina Ungkap Penyebab Mahalnya LPG di NTT

Menanggapi hal tersebut, pihak PT Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa tingginya harga LPG di lapangan dipengaruhi besarnya biaya distribusi di wilayah NTT yang memiliki tantangan geografis cukup berat.

Selain itu, Pertamina juga menyoroti adanya praktik penjualan kembali oleh pihak ketiga yang membeli LPG dari agen resmi lalu menjualnya dengan harga jauh lebih tinggi.

Baca Juga:
Demi Xpander, Mitsubishi Bakal Mengimpor Kembali Pajero Sport

Pertamina menegaskan bahwa margin penjualan LPG sebenarnya tidak boleh melebihi Rp10 ribu per tabung. Ketentuan itu telah diperkuat melalui surat edaran kepada agen resmi maupun para pengecer LPG di Kota Kupang.

Pertamina Bangun Fasilitas SBPE di NTT

Untuk memperkuat distribusi dan menjaga ketersediaan stok, Pertamina wilayah NTT mengungkapkan saat ini tengah membangun fasilitas SBPE (Stasiun Bulk Pengisian Elpiji).

Fasilitas tersebut nantinya akan menjadi pusat penyaluran dan pengisian ulang LPG bagi agen resmi di wilayah NTT.

Pembangunan SBPE disebut sedang berjalan dan ditargetkan selesai dalam dua bulan ke depan. Kehadiran fasilitas itu diharapkan mampu menekan biaya distribusi sekaligus menjaga stabilitas harga LPG di masyarakat.

GMKI Desak Pengawasan Distribusi BBM dan LPG

Di akhir audiensi, GMKI Kupang mendesak Pertamina agar memperketat pengawasan distribusi LPG dengan melibatkan aparat kepolisian.

Menurut GMKI, pengawasan penting dilakukan untuk memastikan distribusi LPG dari agen resmi hingga pengecer berjalan sesuai aturan dan tidak dimanfaatkan oknum tertentu untuk mencari keuntungan.

“Jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi. Krisis tidak boleh dijadikan ruang untuk mencari keuntungan di atas penderitaan masyarakat,” tegas Putra.

Selain LPG, GMKI juga meminta Pertamina memberi perhatian serius terhadap ketersediaan BBM di wilayah terpencil di NTT, khususnya daerah seperti Amfoang yang sering mengalami keterlambatan distribusi dan kelangkaan pasokan.

GMKI berharap distribusi energi di NTT dapat berjalan lebih adil dan merata tanpa membedakan wilayah perkotaan maupun daerah terpencil. (*/kt1)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version