Tim periset memanfaatkan dua sumber bahan utama:
Silika Alami: Didapatkan secara mudah dari material kaolin lokal.
Alumina Efisien: Diperoleh dari pemanfaatan kembali aluminium dross, yaitu limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) hasil sisa proses pengecoran aluminium yang biasanya berupa abu oksida.
Langkah hilirisasi limbah ini dinilai sangat strategis. Selain berhasil mereduksi dampak pencemaran lingkungan akibat limbah industri metalurgi, inovasi ini mampu menciptakan material substitusi impor bernilai ekonomi tinggi.
Struktur Berpori: Rahasia Isolasi Termal Maksimal
Tantangan terbesar dalam menciptakan bata refraktori adalah menjaga keseimbangan antara densitas (kepadatan) dan kemampuan menahan panas. Jika bata dibuat terlalu padat, dinding justru akan menghantarkan panas keluar dari tungku (heat loss).
Untuk mengatasinya, tim BRIN merekayasa struktur bata agar memiliki rongga pori yang seragam dan rapi. Struktur berpori ini berfungsi sebagai isolator termal yang sangat efektif tanpa mengurangi kekuatan mekanis bata dari risiko retak atau pecah.
Uji Efektivitas: Dengan ketebalan dinding berkisar antara 5 hingga 8 sentimeter, inovasi bata tahan api BRIN ini mampu menahan suhu interior furnace hingga mencapai 1.200°C, sementara suhu pada permukaan luar dinding tetap terjaga aman di bawah 50°C.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










