Untuk menjamin kualitasnya, produk ini telah melewati serangkaian uji laboratorium yang ketat, mulai dari identifikasi fase kristal dengan X-Ray Diffraction (XRD), uji densitas, uji tarik, uji tekan, hingga uji konduktivitas termal.
Target TKDN di Atas 50 Persen dan Strategi Siap Bersaing dengan China
Sebelum proyek bata api ini berjalan, teknologi furnace lokal yang dikembangkan oleh tim BRIN sebenarnya telah mengantongi nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40,77%. Agus optimistis, masuknya komponen bata api lokal ini akan mendongkrak nilai TKDN furnace Indonesia hingga menembus angka di atas 50%.
Langkah ini krusial karena sistem furnace merupakan instrumen dasar (core instrument) bagi banyak riset canggih, seperti analisis baterai, solar cell, grafena, semikonduktor, hingga alat PCR DNA.
Meski demikian, BRIN menyadari aspek komersialitas di pasar akan menjadi ujian sesungguhnya. Sebagai produk substitusi impor, bata tahan api lokal ini harus diproduksi dengan biaya rendah namun memiliki mutu tinggi agar mampu bersaing dengan dominasi produk serupa buatan China.
Ke depan, setelah fase riset ini rampung sepenuhnya, BRIN berencana membawa teknologi manufaktur bata api ini ke sektor industri melalui skema lisensi maupun pembentukan perusahaan rintisan baru (spin-off company) demi menyokong ekosistem riset nasional yang mandiri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










