TANGERANG SELATAN — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sukses menorehkan terobosan baru dalam mendukung kemandirian industri dan riset nasional. Melalui Pusat Riset Sistem Nanoteknologi, BRIN tengah mengembangkan inovasi bata tahan api lokal bersuhu tinggi untuk melapisi dinding furnace (tungku pemanasan) laboratorium.
Uniknya, material refraktori canggih yang dirancang mampu bertahan pada suhu ekstrem hingga 1.400°C ini memanfaatkan bahan baku lokal dan substitusi limbah berbahaya dari industri pengecoran aluminium.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Agus Sukarto Wismogroho, menerangkan bahwa riset ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan timnya dalam membuat unit furnace suhu tinggi mandiri.
“Salah satu komponen paling mahal dari furnace adalah dinding refraktori atau bata tahan apinya. Karena itu, kami mulai fokus mengembangkan material bata api sendiri menggunakan bahan baku lokal yang sangat mudah didapatkan di Indonesia,” ungkap Agus, Minggu (24/5/2026).
Memanfaatkan Limbah B3 Berbahaya Menjadi Produk Bernilai Tinggi
Secara teknis, formula komposit inovasi bata tahan api BRIN ini mengombinasikan senyawa alumina dan silika untuk membentuk struktur kristal mullite—sebuah struktur kokoh yang memiliki ketahanan luar biasa terhadap temperatur ekstrem.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
