JAKARTA — Tren peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia kini memicu alarm kewaspadaan baru. Di balik meningkatnya angka harapan hidup, Indonesia tengah dibayangi oleh ancaman penuaan populasi yang diiringi oleh lonjakan kasus demensia lansia Indonesia.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI membeberkan fakta mengejutkan, di mana sekitar 30 persen lansia yang telah menjalani skrining kesehatan pada tahun 2025 lalu terdeteksi memiliki indikasi gangguan kognitif atau penurunan fungsi otak.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Imran Pambudi, menyatakan bahwa fenomena ini menjadi tantangan besar yang harus segera diantisipasi oleh sistem kesehatan nasional, terutama dalam penanganan penyakit demensia dan Alzheimer.
Berdasarkan data Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS), populasi lansia di tanah air pada tahun 2024 sudah menyentuh angka 12 persen atau sekitar 34 juta jiwa. Angka ini diproyeksikan akan melonjak drastis hingga mencapai 20 persen pada tahun 2045 mendatang.
“Tahun 2024 itu mencapai hampir 12 persen. Dan diperkirakan nanti tahun 2045 itu mencapai 20 persen. Artinya, saat ini satu dari delapan orang di Indonesia itu lansia. Namun pada 2045, rasionya menjadi satu dari lima orang,” jelas Imran.
Ironi Angka Harapan Hidup: 11 Tahun Dihabiskan dalam Kondisi Sakit
Meskipun rata-rata umur harapan hidup masyarakat Indonesia merangkak naik hingga menyentuh angka hampir 73 tahun, Kemenkes mengingatkan bahwa grafik ini tidak berbanding lurus dengan kualitas hidup sehat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangTimes.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






